Kamis, 17 Maret 2016

Pengaruh Kolonialisme di Indonesia



Pengertian Kolonialisme

Koloni adalah negeri jajahan yang dikuasai  kekuasaan asing. Koloni adalah kawasan di luar negara asal atau induk. Tujuan utama kolonialisme untuk kepentingan ekonomi, kebanyakan koloni yang dijajah adalah wilayah yang kaya bahan mentah, keperluan untuk mendapatkan bahan mentah adalah dampak dari terjadinya Revolusi Industri di Inggris.
Istilah Kolonialisme artinya memaksakan suatu pemerintahan atas wilayah atau negeri lain (tanah jajahan) atau usaha untuk mendapatkan wilayah yang baik melalui paksaan atau cara damai. Usaha untuk mendapatkan wilayah biasanya melalui penaklukan yang dilakukan dengan damai atau paksaan secara langsung dan tidak langsung.
Awalnya, mereka membeli barang dari pengusaha lokal dan untuk memastikan pasokan barang lancar, mereka mulai campur tangan dalam urusan pemerintahan penguasa setempat dan berusaha menjadikan wilayah tersebut menjadi jajahan. Negara penjajah menggariskan wilayah jajahannya dalam aspek :
  1. kehidupan sosial,
  2. pemerintahan,
  3. undang-undang dan sebagainya.
Sejarah kolonialisme bermula ketika Vasco da Gama dari Portugis berlayar ke India tahun 1948. Diawali pencarian jalan ke Timur untuk mencari sumber rempah-rempah. Perlombaan mencari tanah jajahan dimulai. Keberhasilan Portugis dan Spanyol, diikuti Inggris dan Belanda berlomba mencari daerah penghasil rempah dan menguasainya.
Penguasaan wilayah awalnya untuk kepentingan ekonomi beralih menjadi penguasaan penjajahan politik, yaitu campur tangan untuk menyelesaikan pertikaian, perang saudara dan sebagainya. Ini karena kuasa kolonial menjaga kepentingan perdagangan daripada pergolakan politik lokal yang bisa mengganggu kelancaran perdagangan. Kolonialisme berkembang setelah Perang Dunia I. Sejarah kolonialisme Eropa dibagi dalam, tiga peringkat.
  1. Dari abad 15 hingga Revolusi Industri yang memperlihatkan kemunculan kuasa Eropa seperti Spanyol dan Potrugis.
  2. Setelah Revolusi Industri hingga tahun 1870-an.
  3. Dari tahun 1870-an hingga tahun 1914 ketika meletusnya Perang Dunia I yang merupakan puncak pertikaian kuasa-kuasa imperialis.


Perkembangan Kolonialisme di Indonesia
  1. Awal masuknya pengaruh Barat ke Indonesia
                        Pada abad pertengahan, orang Eropa sudah mengenal hasil dari Dunia Timur, terurama rempah dari Indonesia. Dengan  jatuhnya Kostantinopel ke tangan Turki Usmani (1453) mengakibatkan perdagangan Eropa dan Asia Barat (Timur Tengah) terputus. Hal ini mendorong orang Eropa mencari jalan sendiri ke Dunia Timur untuk mendapatkan rempah-rempah.
•      Melalui penjelajahan samudra, bangsa Barat mencapai Indonesia.Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia awalnya melalui kongsi dagang, kongsi dagang tersebut berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah di Indonesia melalui monopoli.
Faktor-faktor Yang Mendorong Bangsa-bangsa Barat Pergi Ke Dunia Timur
1)      Dikuasinya rute dan pusat perdagangan di Timur Tengah oleh orang-orang Islam.
2)    Adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,yaitu ditemukannya peta dan kompas yang penting bagi pelayaran.
3)     Adanya keinginan mendapatkan rempah-rempah dari daerah asal sehingga harga lebih murah dan memperoleh keuntungan besar.
4)    Adanya keinginan untuk melanjutkan Perang Salib dan menyebarkan agama Nasrani ke daerah yang di kunjungi.
5)     Adanya jiwa petualangan sehingga menggugah semangat untuk melakukan penjelajahan samudra.

b. Latar Belakang Bangsa Eropa Datang ke Indonesia

Bangsa eropa mengambil untung yang tinggi karena penjualan rempah dari Indonesia. Maka munculah keinginan untuk mengambil alih perdagangan dan menguasainya
  1. Bangsa Portugis
Bangsa Portugis sampai India tahun 1498 dan mendirikan kantornya di Gowa tahun 1590. Tahun 1511 di bawah pmpinan d’Albuquerque, Portugis  menguasai Malaka. Tahun 1512, Portugis sampai di Maluku dan diterima sultan Ternate yang bermusuhan dengan Tidore. Portugis  mendirikan benteng dan mendapat hak monopoli perdagangan rempah di Maluku. Hubungan Ternate dengan Portugis diputuskan, sejak Portugis memonopoli perdagangan rempah di di Maluku.
Selain memonopoli, Portugis juga menyebarkan agam Kristen dengan Franciscus Xaverius. Fransiskus Xaverius tiba di Ambon 14 Februari 1546, lalu melanjutkan perjalanan ke Ternate, tiba tahun 1547, dan tanpa lelah mengunjungi pulau-pulau untuk menyebarkan agama. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir tahun 1570. Perang dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.
Sebelumnya,  tahun 1511 mereka membangun benteng di Ternate, kemudian tahun 1512 membangun Benteng di Amurang Sulawesi Utara. Portugis kalah perang dengan Spanyol maka Sulawesi Utara diserahkan  ke kekuasaan Spanyol (1560 hingga 1660). Kerajaan Portugis lalu dipersatukan dengan Kerajaan Spanyol. Abad 17 datang armada dagang VOC (Belanda) yang berhasil mengusir Portugis dari Ternate, sehingga  Portugis mundur dan menguasai Timor timur (sejak 1515).
  1. Bangsa Spanyol
Ekspedisi bangsa Spanyol di bawah Magelhaen, pada 7 April 1521 telah sampai di Pulau Cebu dan Sulawesi Utara. Bangsa Spanyol diterima oleh Raja Cebu yang bermusuhan dengan Mactan. Magelhaen membantu Cebu dengan dibayar mahal sebab Magelhaen terbunuh dalam peperangan. Sepeninggal Magelhaen, pimpinan Spanyol diganti Sbastian de Elcano, dan melanjutkan usaha menemukan daerah asal rempah. Dengan melewati kepulauan Cagayan dan Minando, di Manado Spanyol membangun pos pada tahun 1960, dan akhirnya sampai di Maluku (1521). Kedatangan Spanyol diterima oleh Sultan Tidore yang bermusuhan dengan bangsa Portugis. Pada awal tahun 1600 , tepatnya 1617 – 1646 terjadi peperangan rakyat Minahasa untuk mengusir bangsa Spanyol. Dan akhirnya tahun 1646 Spanyol berhasil diusir dari Sulawesi    Utara. Tahun selanjutnya Spanyol mencoba memengaruhi kerajaan sekitar untuk merebut Minahasa tapi gagal, terakhir dengan mendukung Bolaang Mongondow yang berakhir tahun 1692.
  1. Bangsa Belanda
Sebelum datang ke Indonesia, pedagang Belanda membeli rempah-rempah di Lisbon (ibu kota Portugis). Pada waktu itu belanda masih di bawah penjajahan Spanyol. Mulai tahun 1595, Belanda tidak mengambil rempah dari Lisbon, karena portugis dikuasai Spanyol. Dengan putusnya hubungan perdagangan rempah antara Belanda dan Spanyol, mendorong bangsa Belanda mengadakan penjajahan samudra. Pada bulan April 1595, Belanda mulai pelayaran menuju nusantara dengan empat kapal di bawah Cornelis de Houtman.
Dalam pelayarannya, Belanda menempuh rute: pantai barat Afrika-Tanjung Harapan- Samudra Hindia-Selat Sunda-Banten. Pada saat itu Banten berada di pemerintahan Maulana Muhammad (1580-1605).  Kedatangan rombongan Cornelis de Houtman, diterima baik  masyarakat Banten dan diizinkan berdagang di Banten. Karena sikap yang kurang baik dari Belanda, kemudian diusir dari Banten. Selanjutnya, orang Belanda meneruskan perjalanan ke timur sampai di Bali.
Rombongan kedua dari  Belanda di bawah pimpinan Yacob Van Neck dan Van Waerwyck, dengan delapan kapalnya tiba di Banten pada November 1598. Pada itu hubungan Banten dan Portugis sangat memburuk, sehingga kedatangan Belanda diterima dengan baik. Sikap Belanda juga hati-hati dan mengambil hati para pedagang Banten, sehingga tiga kapal mereka penuh dengan rempah-rempah (lada) dan dikirimkan ke negeri Belanda, sedangkan lima kapalnya yang lain menuju ke Maluku.
Keberhasilan rombongan Van Neck dalam perdagangan rempah-rempah, mendorong orang Belanda lain datang ke Indonesia. Akibatnya terjadi persaingan antara pedagang Belanda sendiri.
  1. Bangsa Inggris
Kedatangan Inggris ke Indonesia dirintis Francis Drake dan Thomas Cavendish dengan mengikuti jalur yang dilalui Magelhaen, pada tahun 1579 Francis Drake berlayar ke Indonesia. Armadanya membawa rempah dari Ternate ke Inggris lewat Samudra Hindia. Perjalanan berikutnya dilakukan tahun 1586 oleh Thomas Cavendish melewati jalur yang sama.
Awal abad ke 17, Inggris memiliki jajahan di india dan berusaha mengembangkan pengaruhnya di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Kolonialisme Inggris di Hindia Belanda dimulai tahun 1604. Menurut sejarah, sejak pertama  tiba di Indonesia tahu 1604, EIC mendirikan kantor dagangnya. Diantaranya di Ambon, Aceh, Jakarta, Banjar, Jepara, dan Makassar.
Namun, armada Inggris tidak mampu menyaingi armada dagang barat lainya di Indonesia, seperti Belanda. Mereka memutuskan aktivitas perdagangannya di India. Mereka berhasil membangun kota perdagangan seperti Madras, Kalkuta, dan Bombay.


Nah, itu dia sedikit tambahan pengetahuan saya yang saya ambil dari tugas tugas saya. semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar