Pengertian Kolonialisme
Koloni adalah negeri
jajahan yang dikuasai kekuasaan asing.
Koloni adalah kawasan di luar negara asal atau induk. Tujuan utama kolonialisme
untuk kepentingan ekonomi, kebanyakan koloni yang dijajah adalah wilayah yang
kaya bahan mentah, keperluan untuk mendapatkan bahan mentah adalah dampak dari terjadinya
Revolusi Industri di Inggris.
Istilah Kolonialisme
artinya memaksakan suatu pemerintahan atas wilayah atau negeri lain (tanah
jajahan) atau usaha untuk mendapatkan wilayah yang baik melalui paksaan atau
cara damai. Usaha untuk mendapatkan wilayah biasanya melalui penaklukan yang
dilakukan dengan damai atau paksaan secara langsung dan tidak langsung.
Awalnya, mereka
membeli barang dari pengusaha lokal dan untuk memastikan pasokan barang lancar,
mereka mulai campur tangan dalam urusan pemerintahan penguasa setempat dan
berusaha menjadikan wilayah tersebut menjadi jajahan. Negara penjajah
menggariskan wilayah jajahannya dalam aspek :
- kehidupan sosial,
- pemerintahan,
- undang-undang dan sebagainya.
Sejarah kolonialisme
bermula ketika Vasco da Gama dari Portugis berlayar ke India tahun 1948.
Diawali pencarian jalan ke Timur untuk mencari sumber rempah-rempah. Perlombaan
mencari tanah jajahan dimulai. Keberhasilan Portugis dan Spanyol, diikuti
Inggris dan Belanda berlomba mencari daerah penghasil rempah dan menguasainya.
Penguasaan wilayah
awalnya untuk kepentingan ekonomi beralih menjadi penguasaan penjajahan
politik, yaitu campur tangan
untuk menyelesaikan pertikaian, perang saudara dan sebagainya. Ini karena kuasa
kolonial menjaga kepentingan perdagangan daripada pergolakan politik lokal yang
bisa mengganggu kelancaran perdagangan. Kolonialisme berkembang setelah Perang
Dunia I. Sejarah kolonialisme Eropa dibagi dalam, tiga peringkat.
- Dari abad 15 hingga Revolusi
Industri yang memperlihatkan kemunculan kuasa Eropa seperti Spanyol dan
Potrugis.
- Setelah Revolusi Industri hingga
tahun 1870-an.
- Dari tahun 1870-an hingga tahun 1914
ketika meletusnya Perang Dunia I yang merupakan puncak pertikaian
kuasa-kuasa imperialis.
Perkembangan
Kolonialisme di Indonesia
- Awal
masuknya pengaruh Barat ke Indonesia
Pada
abad pertengahan, orang Eropa sudah mengenal hasil dari Dunia Timur, terurama
rempah dari Indonesia. Dengan jatuhnya
Kostantinopel ke tangan Turki Usmani (1453) mengakibatkan perdagangan Eropa dan
Asia Barat (Timur Tengah) terputus. Hal ini mendorong orang Eropa mencari jalan
sendiri ke Dunia Timur untuk mendapatkan rempah-rempah.
•
Melalui penjelajahan samudra, bangsa
Barat mencapai Indonesia.Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia awalnya melalui
kongsi dagang, kongsi dagang tersebut berusaha menguasai perdagangan
rempah-rempah di Indonesia melalui monopoli.
Faktor-faktor Yang Mendorong Bangsa-bangsa Barat
Pergi Ke Dunia Timur
1)
Dikuasinya rute dan pusat perdagangan di
Timur Tengah oleh orang-orang Islam.
2)
Adanya kemajuan di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi,yaitu ditemukannya peta dan kompas yang penting bagi
pelayaran.
3)
Adanya keinginan mendapatkan
rempah-rempah dari daerah asal sehingga harga lebih murah dan memperoleh
keuntungan besar.
4)
Adanya keinginan untuk melanjutkan Perang
Salib dan menyebarkan agama Nasrani ke daerah yang di kunjungi.
5)
Adanya jiwa petualangan sehingga
menggugah semangat untuk melakukan penjelajahan samudra.
b. Latar Belakang Bangsa Eropa Datang ke Indonesia
Bangsa eropa mengambil
untung yang tinggi karena penjualan rempah dari Indonesia. Maka munculah
keinginan untuk mengambil alih perdagangan dan menguasainya
- Bangsa Portugis
Bangsa
Portugis sampai India tahun 1498 dan mendirikan kantornya di Gowa tahun 1590. Tahun
1511 di bawah pmpinan d’Albuquerque, Portugis menguasai Malaka. Tahun 1512, Portugis sampai
di Maluku dan diterima sultan Ternate yang bermusuhan dengan Tidore. Portugis mendirikan benteng dan mendapat hak monopoli
perdagangan rempah di Maluku. Hubungan Ternate dengan Portugis diputuskan, sejak
Portugis memonopoli perdagangan rempah di di Maluku.
Selain
memonopoli, Portugis juga menyebarkan agam Kristen dengan Franciscus Xaverius.
Fransiskus Xaverius tiba di Ambon 14 Februari 1546, lalu melanjutkan perjalanan
ke Ternate, tiba tahun 1547, dan tanpa lelah mengunjungi pulau-pulau untuk
menyebarkan agama. Persahabatan Portugis dan Ternate berakhir tahun 1570. Perang
dengan Sultan Babullah selama 5 tahun (1570-1575), membuat Portugis harus
angkat kaki dari Ternate dan terusir ke Tidore dan Ambon.
Sebelumnya,
tahun 1511 mereka membangun benteng di
Ternate, kemudian tahun 1512 membangun Benteng di Amurang Sulawesi Utara.
Portugis kalah perang dengan Spanyol maka Sulawesi Utara diserahkan ke kekuasaan Spanyol (1560 hingga 1660).
Kerajaan Portugis lalu dipersatukan dengan Kerajaan Spanyol. Abad 17 datang
armada dagang VOC (Belanda) yang berhasil mengusir Portugis dari Ternate,
sehingga Portugis mundur dan menguasai
Timor timur (sejak 1515).
- Bangsa Spanyol
Ekspedisi bangsa
Spanyol di bawah Magelhaen, pada 7 April 1521 telah sampai di Pulau Cebu dan Sulawesi
Utara. Bangsa Spanyol diterima oleh Raja Cebu yang bermusuhan dengan Mactan.
Magelhaen membantu Cebu dengan dibayar mahal sebab Magelhaen terbunuh dalam
peperangan. Sepeninggal Magelhaen, pimpinan Spanyol diganti Sbastian de Elcano,
dan melanjutkan usaha menemukan daerah asal rempah. Dengan melewati kepulauan
Cagayan dan Minando, di Manado Spanyol membangun pos pada tahun 1960, dan
akhirnya sampai di Maluku (1521). Kedatangan Spanyol diterima oleh Sultan
Tidore yang bermusuhan dengan bangsa Portugis. Pada awal tahun 1600 , tepatnya
1617 – 1646 terjadi peperangan rakyat Minahasa untuk mengusir bangsa Spanyol.
Dan akhirnya tahun 1646 Spanyol berhasil diusir dari Sulawesi Utara. Tahun selanjutnya Spanyol mencoba
memengaruhi kerajaan sekitar untuk merebut Minahasa tapi gagal, terakhir dengan
mendukung Bolaang Mongondow yang berakhir tahun 1692.
- Bangsa Belanda
Sebelum datang ke Indonesia, pedagang Belanda membeli
rempah-rempah di Lisbon (ibu kota Portugis). Pada waktu itu belanda masih di
bawah penjajahan Spanyol. Mulai tahun 1595, Belanda tidak
mengambil rempah dari Lisbon,
karena portugis dikuasai Spanyol. Dengan putusnya hubungan perdagangan rempah
antara Belanda dan
Spanyol, mendorong bangsa Belanda mengadakan penjajahan samudra. Pada bulan
April 1595, Belanda mulai pelayaran menuju nusantara dengan empat kapal di bawah
Cornelis de Houtman.
Dalam pelayarannya, Belanda menempuh rute: pantai
barat Afrika-Tanjung Harapan- Samudra Hindia-Selat Sunda-Banten. Pada saat itu
Banten berada di pemerintahan Maulana Muhammad (1580-1605). Kedatangan
rombongan Cornelis de Houtman, diterima baik
masyarakat Banten dan diizinkan berdagang di Banten. Karena sikap yang kurang baik dari Belanda, kemudian
diusir dari Banten. Selanjutnya, orang Belanda meneruskan perjalanan ke timur
sampai di Bali.
Rombongan kedua dari Belanda di bawah pimpinan Yacob Van Neck dan
Van Waerwyck, dengan delapan kapalnya tiba di Banten pada November 1598. Pada
itu hubungan Banten dan Portugis sangat memburuk, sehingga kedatangan Belanda
diterima dengan baik. Sikap Belanda juga hati-hati dan mengambil hati para pedagang
Banten, sehingga tiga kapal mereka penuh dengan rempah-rempah (lada) dan
dikirimkan ke negeri Belanda, sedangkan lima kapalnya yang lain menuju ke
Maluku.
Keberhasilan rombongan Van Neck dalam perdagangan
rempah-rempah, mendorong orang Belanda lain datang ke Indonesia. Akibatnya
terjadi persaingan antara pedagang Belanda sendiri.
- Bangsa Inggris
Kedatangan Inggris ke Indonesia dirintis Francis Drake
dan Thomas Cavendish dengan mengikuti jalur yang dilalui Magelhaen, pada
tahun 1579 Francis Drake berlayar ke Indonesia. Armadanya membawa rempah dari
Ternate ke Inggris lewat Samudra Hindia. Perjalanan berikutnya dilakukan tahun
1586 oleh Thomas Cavendish melewati jalur yang sama.
Awal abad ke 17, Inggris memiliki jajahan di india dan berusaha mengembangkan
pengaruhnya di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Kolonialisme Inggris di
Hindia Belanda dimulai tahun 1604. Menurut sejarah, sejak pertama tiba
di Indonesia tahu 1604, EIC mendirikan kantor dagangnya. Diantaranya di Ambon,
Aceh, Jakarta, Banjar, Jepara, dan Makassar.
Namun, armada Inggris tidak mampu menyaingi armada dagang
barat lainya di Indonesia, seperti Belanda. Mereka memutuskan aktivitas
perdagangannya di India. Mereka berhasil membangun kota perdagangan seperti
Madras, Kalkuta, dan Bombay.
Nah, itu dia sedikit tambahan pengetahuan saya yang saya ambil dari tugas tugas saya. semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar